HAI!
Setelah sekian lama berlibur, akhirnya saya kembali menulis di blogger ini.
Kali ini saya akan menceritakan tentang pertemuan saya dengan Ibu Kanjeng Ratu Kidul tepatnya di Pura Campuhan Windu Segara,Padang Galak Bali.
Jadi sebelumnya, dari kecil saya sangat senang mendatangi pantai. Satu minggu sekali ditiap hari sabtu maupun minggu saya dan keluarga pasti menyempatkan untuk pergi ke pantai. Dan Warna kesukaan saya dari kecil hingga saat ini adalah Hijau dan Merah. Waktupun cepat berlalu, hingga saat ini diumur saya yang menginjak 22 tahun saya lebih berobsesi lagi dengan pantai.
Oya. dulu saat saya masih berada dibangku SMA ada seseorang yang tiba-tiba berbicara kepada saya dengan nada yang kurang santai sambil berkata "kamu suka kepantai ya? tolong ya hindari pantai, kamu disenangi". Disana saya masih belum mengerti apa maksudnya lalu sayapun juga tidak merespon omongan tersebut.
Tahun 2015 pada saat saya berumur 18 tahun, saya berlibur bersama teman-teman ke Nusa Lembongan. Transportasi untuk bisa sampai di tempat tersebut hanyalah dengan kapal laut (boat), kamipun sampai dengan selamat di Nusa Lembongan. Setelah beberapa hari berlibur akhirnya kami balik menuju Denpasar kembali menggunakan boat. Ditengah-tengah laut, seketika ombak menjadi besar dan boat yang kami tumpangi mati, mungkin ada sekitar 10 menit kami terombang ambing ditengah laut tanpa alasan yg jelas kenapa boat yang kami tumpangi tiba-tiba mati dan pada akhirnya kami semua sampai juga di pelabuhan Pantai Sanur Denpasar dengan penuh rasa tegang. kejadian ini saya rasa biasa saja dan menganggap memang cuaca sedang tidak mendukung.
Lalu lama kelamaan saya merasa ada yang janggal, Di setiap saya mengunjungi pantai saya merasa sangat bahagia, ingin menangis seperti akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak saya temui dan juga sering kejadian setiap saya menginjak pantai dan kaki ini mengenai air pantai, ombak pantai seketika langsung besar (kejadian ini bukan di satu pantai,tapi disetiap pantai yang saya datangi selalu seperti itu) saya juga sering melihat banyak prajurit ditengah-tengah pantai, berdiri diatas air sambil menatapi saya dari kejauhan seperti sedang mengawasi saya (ini memang tidak masuk diakal, tapi memang ini nyata saya lihat).
Disatu kesempatan, Bos dan Pegawai ditempat saya PKL (Praktik Kerja Lapangan) semasa kuliah mengajak saya membersihkan diri (Melukat) ke Campuhan Windu Segara. H-1 Hari sebelum mendatangi Pura, saya merasa sedih bercampur bahagia tapi entah saya tidak tahu apa penyebabnya. Ke esokan harinya saya mendatangi Pura tersebut, melakukan persembahyangan lengkap dengan pembersihan diri ke laut. Di sesi terakhir ternyata kami sembahyang ke "Rumah" Bunda Ratu Kidul. Didepan pintu menuju rumah Bunda Ratu, semua badan saya terasa kesemutan, bergetar dan kaki sangat lemas lalu saya mencoba untuk masuk dan melakukan persembahyangan. Didalam tempat tersebut kami hanya ber tiga, saya berada disebelah kanan tepat didepan lukisan Bunda Ratu. Persembahyangan dimulai, pencakupan tangan mengarah didepan jidat dan berdoa meminta izin mendatangi Rumah Ibu lalu saat saya menurunkan tangan untuk mengganti bunga yang sudah saya gunakan untuk sembahyang, dannnn tadaa.... tidak disangka Bunda Ratu datang tepat didepan saya menggunakan baju hijau lengkap dengan Mahkota, berparas Ayu nan Cantik, badan tinggi besar berkulit putih dan tersenyum kepada saya sambil berkata "Kenapa kau baru kemari? Ibu sudah lama menunggumu cah ayu. dan perbincangan singkat yang masuk didalam pikiran saya, lalu pesan terakhir dari Ibu yaitu "panggil Ibu saat kau merasa sedih dan memerlukan pertolongan". disana saya hanya mengangguk, lalu saya sujud didepan patung Ibu sambil meminta maaf , saya sangat merasa bersalah baru sekarang bisa mendatangi rumah Ibu padahal sudah dari lama saya ditunggu oleh Ibu.
Inilah awal pertemuan saya dengan Ibu.
Ibu yang pengasih, penyayang, peduli akan anak-anaknya dan satu lagi! Ibu tidak pernah meminta apapun kepada manusia, malah manusia yang sering meminta hal-hal aneh kepada Ibu, setelah dituruti kemauannya sifat asli manusia itu akan keluar yaitu sifat SOMBONG dan DENGKI. lalu semua yang Ibu berikan akan diambil kembali tanpa ada sisa, disanalah manusia akan menyalahkan Ibu Ratu padahal semua yang terjadi adalah kesalahan manusia, karena Ibu Ratu tidak suka dengan kesombongan.
Jika dari teman-teman sekalian berdomisili di Denpasar, tidak ada salahnya sesekali membersihkan diri di Campuhan ini. Jika kita sering melakukan pembersihan diri (penglukatan), hal buruk apapun yang ada didalam diri kita akan hilang (tapi bukan dilakukan hanya dengan sekali pembersihan ya). Selain Ibu Ratu, di Campuhan Windu Segara juga ada Dewi Kwan-im, Ratu Niang dan Dewa Siwa juga.
Jika kalian bertanya sarana apa saja yang dibawa pada saat ke Campuhan?
Yang perlu kalian bawa pastinya adalah Canang sekiranya 25, 1 Pejati, Bungkak gading (kelapa yang masih muda sekali berwarna orange, jumlah sesuai jumlah orang yang ingin ikut pembersihan diri), jika ingin membawa oleh-oleh untuk Dewi Kwan-im ,Dewa Siwa dan Ibu Ratu dipersilahkan tapi jika tidak juga tidak apa-apa.
Sekian cerita kali ini, saya akan lebih rajin lagi untuk menulis cerita diblogger hehehe.
See u !
Setelah sekian lama berlibur, akhirnya saya kembali menulis di blogger ini.
Kali ini saya akan menceritakan tentang pertemuan saya dengan Ibu Kanjeng Ratu Kidul tepatnya di Pura Campuhan Windu Segara,Padang Galak Bali.
Jadi sebelumnya, dari kecil saya sangat senang mendatangi pantai. Satu minggu sekali ditiap hari sabtu maupun minggu saya dan keluarga pasti menyempatkan untuk pergi ke pantai. Dan Warna kesukaan saya dari kecil hingga saat ini adalah Hijau dan Merah. Waktupun cepat berlalu, hingga saat ini diumur saya yang menginjak 22 tahun saya lebih berobsesi lagi dengan pantai.
Oya. dulu saat saya masih berada dibangku SMA ada seseorang yang tiba-tiba berbicara kepada saya dengan nada yang kurang santai sambil berkata "kamu suka kepantai ya? tolong ya hindari pantai, kamu disenangi". Disana saya masih belum mengerti apa maksudnya lalu sayapun juga tidak merespon omongan tersebut.
Tahun 2015 pada saat saya berumur 18 tahun, saya berlibur bersama teman-teman ke Nusa Lembongan. Transportasi untuk bisa sampai di tempat tersebut hanyalah dengan kapal laut (boat), kamipun sampai dengan selamat di Nusa Lembongan. Setelah beberapa hari berlibur akhirnya kami balik menuju Denpasar kembali menggunakan boat. Ditengah-tengah laut, seketika ombak menjadi besar dan boat yang kami tumpangi mati, mungkin ada sekitar 10 menit kami terombang ambing ditengah laut tanpa alasan yg jelas kenapa boat yang kami tumpangi tiba-tiba mati dan pada akhirnya kami semua sampai juga di pelabuhan Pantai Sanur Denpasar dengan penuh rasa tegang. kejadian ini saya rasa biasa saja dan menganggap memang cuaca sedang tidak mendukung.
Lalu lama kelamaan saya merasa ada yang janggal, Di setiap saya mengunjungi pantai saya merasa sangat bahagia, ingin menangis seperti akan bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak saya temui dan juga sering kejadian setiap saya menginjak pantai dan kaki ini mengenai air pantai, ombak pantai seketika langsung besar (kejadian ini bukan di satu pantai,tapi disetiap pantai yang saya datangi selalu seperti itu) saya juga sering melihat banyak prajurit ditengah-tengah pantai, berdiri diatas air sambil menatapi saya dari kejauhan seperti sedang mengawasi saya (ini memang tidak masuk diakal, tapi memang ini nyata saya lihat).
Disatu kesempatan, Bos dan Pegawai ditempat saya PKL (Praktik Kerja Lapangan) semasa kuliah mengajak saya membersihkan diri (Melukat) ke Campuhan Windu Segara. H-1 Hari sebelum mendatangi Pura, saya merasa sedih bercampur bahagia tapi entah saya tidak tahu apa penyebabnya. Ke esokan harinya saya mendatangi Pura tersebut, melakukan persembahyangan lengkap dengan pembersihan diri ke laut. Di sesi terakhir ternyata kami sembahyang ke "Rumah" Bunda Ratu Kidul. Didepan pintu menuju rumah Bunda Ratu, semua badan saya terasa kesemutan, bergetar dan kaki sangat lemas lalu saya mencoba untuk masuk dan melakukan persembahyangan. Didalam tempat tersebut kami hanya ber tiga, saya berada disebelah kanan tepat didepan lukisan Bunda Ratu. Persembahyangan dimulai, pencakupan tangan mengarah didepan jidat dan berdoa meminta izin mendatangi Rumah Ibu lalu saat saya menurunkan tangan untuk mengganti bunga yang sudah saya gunakan untuk sembahyang, dannnn tadaa.... tidak disangka Bunda Ratu datang tepat didepan saya menggunakan baju hijau lengkap dengan Mahkota, berparas Ayu nan Cantik, badan tinggi besar berkulit putih dan tersenyum kepada saya sambil berkata "Kenapa kau baru kemari? Ibu sudah lama menunggumu cah ayu. dan perbincangan singkat yang masuk didalam pikiran saya, lalu pesan terakhir dari Ibu yaitu "panggil Ibu saat kau merasa sedih dan memerlukan pertolongan". disana saya hanya mengangguk, lalu saya sujud didepan patung Ibu sambil meminta maaf , saya sangat merasa bersalah baru sekarang bisa mendatangi rumah Ibu padahal sudah dari lama saya ditunggu oleh Ibu.
Inilah awal pertemuan saya dengan Ibu.
Ibu yang pengasih, penyayang, peduli akan anak-anaknya dan satu lagi! Ibu tidak pernah meminta apapun kepada manusia, malah manusia yang sering meminta hal-hal aneh kepada Ibu, setelah dituruti kemauannya sifat asli manusia itu akan keluar yaitu sifat SOMBONG dan DENGKI. lalu semua yang Ibu berikan akan diambil kembali tanpa ada sisa, disanalah manusia akan menyalahkan Ibu Ratu padahal semua yang terjadi adalah kesalahan manusia, karena Ibu Ratu tidak suka dengan kesombongan.
Jika dari teman-teman sekalian berdomisili di Denpasar, tidak ada salahnya sesekali membersihkan diri di Campuhan ini. Jika kita sering melakukan pembersihan diri (penglukatan), hal buruk apapun yang ada didalam diri kita akan hilang (tapi bukan dilakukan hanya dengan sekali pembersihan ya). Selain Ibu Ratu, di Campuhan Windu Segara juga ada Dewi Kwan-im, Ratu Niang dan Dewa Siwa juga.
Jika kalian bertanya sarana apa saja yang dibawa pada saat ke Campuhan?
Yang perlu kalian bawa pastinya adalah Canang sekiranya 25, 1 Pejati, Bungkak gading (kelapa yang masih muda sekali berwarna orange, jumlah sesuai jumlah orang yang ingin ikut pembersihan diri), jika ingin membawa oleh-oleh untuk Dewi Kwan-im ,Dewa Siwa dan Ibu Ratu dipersilahkan tapi jika tidak juga tidak apa-apa.
Sekian cerita kali ini, saya akan lebih rajin lagi untuk menulis cerita diblogger hehehe.
See u !



Komentar
Posting Komentar